Tak ada
apapun yang dapat bergerak secepat cahaya (c). Untuk mengakselerasi sebutir
debu saja agar mencapai kecepatan 0,9999999999 c, maka seluruh energi di jagad
raya habis terpakai. Begitu teori di dalam ilmu Fisika. Lain halnya di dalam
jagad perpolitikan.
Hasil resmi
pemilu belum diumumkan, semua baru hasil dari hitung cepat (quick Count) yang
diperoleh melalui sampling TPS. Biasanya berhitung dengan cepat memiliki
potensi kesalahan yang cukup lumayan.
Meski
begitu, Parpol-parpol sudah memakai hasil hitung cepat sebagai dasar bertindak
dan bergerak. Negosiasi dan lobi politik sudah berlangsung intens, baik
terang-terangan ada pula yang dibalik layar tersamar dan sumir. Semua bergerak
cepat menghubungi siapa dan lalu memberikan apa untuk mendapatkan apa, koalisi
untuk kepentingan pemenangan pada pemilu capres. Tentu masuk akal jika sekalian
dibahas juga, siapa menduduki jabatan apa jika nanti koalisi memenangkan pemilu
capres. Sapi mulai masuk gelanggang dan dagang sapi politik sudah dimulai, jadi
SIFAT ASLI SUDAH MULAI TERLIHAT.
Dan sungguh
tidak begitu terang apa yang dijadikan dasar untuk berkoalisi, selain perolehan
jumlah suara pada pemilu caleg. Kini saya merasa suara saya (rakyat) mulai
dimain-mainkan Parpol untuk bernegosiasi meraih keuntungan politik yang sebesar
mungkin untuk partai atau bahkan untuk diri sendiri. Janji kampanye perlahan
mulai menguap dan terlupakan.
Pemilu caleg
baru seminggu berlalu, dan bahkan pemilu ulang masih berlangsung. Tinta celup
di jari kelingking bahkan masih membayang, dan TPS di kelurahan tempat saya
tinggal belum dibongkar, RAKYAT SUDAH DILUPAKAN. Betul juga, saat kau tusuk
gambar parpol dan gambar caleg di kertas suara di TPS tempat kau mencoblos,
itulah batas akhir kau diperlukan dan atau diingat. Kau telah tiba di garis
perbatasan dan di seberang garis itu adalah wilayah eksklusif yang tidak akan
pernah kau kunjungi, jadi saatnya kembali ke kenyataan dan menghadapi
pertarungan hidup, hadapilah sendiri dan bertarunglah sendiri.
Lihatlah,
bahkan hasil resmi pemilu belum diumumkan. Tetapi semua sudah tidak sabar
menunggu, hasrat dan nafsu kuasa sudah menggelegak sampai di ubun-ubun, menekan
mata menjadi merah dan memacu jantung hingga nafas menjadi ngos-ngosan.
Menunggu memang membosankan dan menyiksa, terlebih jika yang ditunggu adalah
KUE KEKUASAAN DAN HARTA. Keduanya dapat membuatmu melakukan apa saja.
Sesekali
masih terlontar kata “demi kepentingan Bangsa”, tetapi getarannya tidaklah
beresonansi dengan kebutuhan rakyat, sebab sebagai politisi kalimat “demi
kepentingan bangsa” wajib dihafal, kalau perlu berulang-ulang di depan
cermin sampai menjadi hafal betul.
Jadi, ya
memang begitulah. Itu sebabnya saya bingung kalau mereka berkata bahwa pemilu
tahun 2014 adalah momentum perubahan. Entah mengubah dari seperti apa agar
menjadi seperti apa. Ada yang tidak berubah, anggota legislative petahana tetap
menjadi anggota legislatif. Ada yang berubah, anggota legislatif petahana tidak
mendapat jumlah suara yang cukup dan digantikan anggota “fresh graduate”.
PERUBAHAN
BARU SEBATAS ITU SAJA.